Teheran — Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki hari ketujuh dan terus meningkat menjadi konflik regional. Situasi memanas setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara Arab yang disebut sebagai sekutu Washington.
Eskalasi konflik juga menarik keterlibatan negara lain. Inggris kini mengizinkan militer AS menggunakan pangkalan mereka di Siprus untuk mendukung operasi militer di kawasan tersebut.
Meski pertempuran hari ketujuh terus berlangsung, para analis menilai masih terlalu dini untuk memastikan kapan dan bagaimana konflik ini akan berakhir. Namun, masing-masing pihak sudah memiliki definisi sendiri tentang “kemenangan”.
Definisi Kemenangan Donald Trump

Presiden AS Donald Trump sejak awal menyatakan tujuan utama operasi militer adalah menghancurkan kemampuan militer Iran, terutama program rudalnya.
Dalam pesan video dari kediamannya di Mar-a-Lago, Trump menegaskan bahwa AS akan melumpuhkan kekuatan rudal Iran.
Menurut Trump, Iran selama ini dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan Amerika sejak Revolusi Iran 1979. Ia juga berulang kali menuduh Teheran tengah mengembangkan rudal jarak jauh dan program nuklir yang berpotensi mengancam AS.
Selain menghancurkan kekuatan militer Iran, Trump juga secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka sendiri.
Namun sejumlah analis menilai strategi ini berisiko besar. Sepanjang sejarah modern, hampir tidak ada pergantian rezim yang berhasil hanya melalui serangan udara tanpa operasi darat.

Sebagai perbandingan, penggulingan Saddam Hussein pada 2003 melibatkan invasi darat besar-besaran oleh AS dan sekutunya. Sementara jatuhnya Muammar Gaddafi pada 2011 terjadi setelah pemberontakan yang didukung oleh NATO.
Perhitungan Politik Benjamin Netanyahu

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memiliki tujuan serupa: menghancurkan kemampuan militer Iran dan jaringan milisi yang dianggap mengancam keamanan Israel.
Netanyahu selama puluhan tahun memandang Iran sebagai ancaman terbesar bagi negaranya. Ia percaya pemerintah Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir yang dapat digunakan melawan Israel.
Dalam pernyataan di Tel Aviv, Netanyahu menyatakan bahwa Israel dan AS berpeluang mencapai tujuan yang telah diincar selama empat dekade: melumpuhkan rezim Iran.
Konflik ini juga memiliki dimensi politik domestik bagi Netanyahu. Ia akan menghadapi pemilu pada akhir tahun dan keberhasilan militer dapat memperkuat posisinya yang sempat tertekan setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Strategi Bertahan Pemerintah Iran

Bagi pemerintah Iran, definisi kemenangan jauh lebih sederhana: bertahan dari perang.
Sistem politik Iran sejak awal dirancang agar mampu bertahan dari konflik dan tekanan eksternal sejak didirikan oleh Ruhollah Khomeini.
Berbeda dengan rezim yang bergantung pada satu keluarga seperti di Libya atau Suriah, struktur kekuasaan Iran ditopang oleh jaringan institusi politik, militer, dan keagamaan yang kompleks.
Salah satu pilar terpenting adalah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang memiliki sekitar 190 ribu personel aktif serta ratusan ribu cadangan.
IRGC juga didukung oleh milisi paramiliter Basij yang dikenal sangat loyal terhadap rezim.
Kedua organisasi tersebut memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas internal dan menekan gerakan protes di dalam negeri.
Risiko Kekacauan Jika Rezim Iran Runtuh

Sejumlah analis memperingatkan bahwa menggulingkan rezim Iran bisa membawa konsekuensi besar bagi kawasan.
Pengalaman di Irak dan Libya menunjukkan bahwa perubahan rezim yang dipaksakan sering berujung pada kekacauan berkepanjangan dan munculnya kelompok ekstremis.
Dengan wilayah hampir tiga kali lebih luas dari Irak dan populasi lebih dari 90 juta jiwa, runtuhnya pemerintahan Iran berpotensi memicu konflik internal berskala besar di Timur Tengah.
Di sisi lain, operasi militer yang sedang berlangsung telah mengubah dinamika kekuatan di kawasan, bahkan jika pemerintahan Iran tetap bertahan.
Sudah memasuki hari ketujuh, Apakah konflik ini akan berakhir dengan perubahan rezim, gencatan senjata, atau perang berkepanjangan masih menjadi tanda tanya besar bagi dunia.









