Pada 18 November 2025, kawasan terbuka berbentuk bukit-bukit mini yang menjadi lokasi Art Salam: Seni Assalamualaikum tampak tidak seperti ruang pamer seni rupa pada umumnya. Tidak ada dinding putih, tidak ada pencahayaan galeri, tidak ada sekat-sekat yang membingkai karya; yang ada hanyalah sebidang tanah berlapis rumput, basah oleh gerimis yang tak kunjung reda. Di sinilah para perupa, melalui keputusan kuratorial untuk menempatkan karya mereka langsung di atas tanah secara literal dan simbolik.
Pilihan ini bukan sekadar keputusan artistik, melainkan ia sekaligus menjadi pernyataan budaya. Dalam tradisi banyak komunitas di Aceh, tanah bukan sekadar medium fisik, tetapi juga ruang perjumpaan manusia dengan alam dan Yang Ilahi. Dengan membaringkan lukisan di atas tanah, para seniman dan panitia seakan sedang mengembalikan karya kepada sumber asalnya: elemen yang menjadi tempat manusia berdiri, bekerja, berdoa, dan kembali.
Seiring pengunjung berdatangan, tanah perlahan berubah menjadi becek. Karya yang semula tersusun rapi kini bersentuhan dengan cipratan lumpur dan jejak langkah manusia. Tidak ada upaya untuk menghalanginya; tidak ada tali pembatas atau larangan menyentuh. Pameran ini tidak sedang menjaga karya dari alam, melainkan membuka karya kembali kepada alam. Keberanian itu ketiadaan proteksi, kerelaan terhadap risiko menjadi elemen etnografis penting dalam memahami bagaimana Art Salam memaknai hubungan seni, manusia, dan lingkungan.
Menjelang sore, ketika gerimis semakin rapat, kerumunan mulai mengambil posisi di depan salah satu barisan karya. Tak ada komando formal, namun tubuh-tubuh itu bergerak seolah mengikuti ritme yang sama. Dari kejauhan terdengar dentingan rapai pertama—dalam budaya Aceh, suara itu lebih dari sekadar musik; ia adalah pemanggil suasana batin.
Pertunjukan Rapai Debus dimulai, tepat di tengah ruang pamer yang basah oleh hujan. Para pemain memasuki arena dengan langkah terukur. Penonton menahan napas ketika aksi kekebalan tubuh diperagakan, sementara suara syekh dabus mengalun dengan kemerduan yang membelah gaduh hujan. Dalam momen itu, ruang pamer berubah menjadi ruang ritual. Visual karya, suara alat musik, aroma tanah basah, hujan, dan konsentrasi penonton melebur menjadi satu kesatuan pengalaman.
Bagi sebagian pengunjung, mungkin sulit menafsirkan apa pesan eksplisit di balik perpaduan seni rupa dan seni pertunjukan ini. Namun dalam perspektif etnografi, justru suasana yang tercipta, seperti ketegangan, kekhidmatan, kebersamaan dalam hujan, menjelma data sosial budaya yang lebih bernilai daripada pesan verbal apa pun. Seni tidak hanya dilihat; ia dirasakan, dialami, dan dihayati bersama.
Ketika malam turun, tempat yang sebelumnya menjadi panggung Rapai Debus berubah perlahan. Tanpa pengumuman formal, dua beulangong berdiameter satu meter muncul, berdiri tegak seperti artefak ritual. Namun benda itu bukan properti artistik; ia benar-benar diisi dan dipasangi api untuk memasak kuah belangong—salah satu hidangan tradisional yang kerap hadir dalam perayaan maulid.
Aroma rempah mulai menggantikan bau tanah basah. Orang-orang berkumpul mengitari beulangong, tidak lagi sebagai penonton seni, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang berbagi ruang dan makanan. Art Salam pada titik ini tidak hanya menjadi pameran, tetapi juga peristiwa sosial: tempat seni, budaya, ritual, dan kehidupan sehari-hari tidak berada dalam sekat-sekat.
Melalui rangkaian peristiwa ini, Art Salam memperlihatkan dirinya bukan sebagai pameran seni rupa konvensional, melainkan sebagai ruang temu antara praktik estetika dan praktik hidup. Karya tidak hanya dipajang untuk dilihat, tetapi ia diuji oleh tanah, hujan, dan kaki manusia. Pertunjukan tidak hanya menghibur, tetapi memanggil ingatan kolektif dan emosi komunitas. Masakan tidak hanya disajikan, melainkan juga menjadi hidangan yang mencairkan batas antara seniman, penyelenggara, dan pengunjung.
Dalam perspektif etnografis, Art Salam adalah upaya mengembalikan seni ke dalam ekosistem sosial yang lebih luas, di mana karya bukan benda yang dipisahkan dari konteksnya, melainkan bagian dari kehidupan yang berlangsung dalam alam, budaya, dan kebersamaan.












