Wakil Ketua DPRK Aceh Utara Bantah Keras Isu Penjarahan Bantuan: “Itu Justru untuk Mempercepat Penyaluran”

Aceh UtaraWakil Ketua DPRK Aceh Utara, H. Jirwani Ibnu, SE atau yang akrab disapa Nek Jir, membantah keras tudingan yang menyebut sejumlah anggota dewan diduga menjarah bantuan banjir di Pendopo Bupati. Ia menegaskan, narasi tersebut tidak berdasar dan berpotensi memperkeruh situasi di tengah kondisi Aceh Utara yang sedang tertimpa musibah.

Menurut Nek Jir, pengambilan bantuan oleh anggota DPRK dilakukan untuk mempercepat penyaluran kepada warga terdampak, bukan untuk dibawa pulang atau disalahgunakan.

“Kepada pejabat yang menyampaikan tuduhan itu, saya tegaskan: bantuan yang diambil itu untuk dibagikan, bukan untuk dipakai pribadi. Jangan memperkeruh suasana saat masyarakat sedang susah. Secara akal sehat, tidak mungkin anggota dewan mengambil bantuan lalu tidak menyalurkannya,” ujar Nek Jir.

Ia meminta seluruh pihak, termasuk pejabat Pemkab yang melontarkan tuduhan tersebut, agar bersikap bijak dan tidak menambah beban psikologis masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

“Jika perlu, setelah musibah ini selesai, kita duduk bersama”

Nek Jir menyatakan siap membuka dialog dengan pejabat terkait, termasuk bersama insan pers, setelah penanganan banjir selesai.

“Setelah musibah ini berlalu, panggil pejabat itu. Kita duduk bersama, kita perjelas semuanya. Jangan membuat polemik di tengah masa bencana,” tegasnya.

Bantuan di Pendopo Tidak Sebanyak yang Disebut

Nek Jir juga menilai tudingan yang menyebut pendopo sebagai sumber tumpukan bantuan tidak sesuai fakta. Bantuan yang masuk ke Pendopo Bupati, kata dia, justru tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan kiriman yang datang melalui Bandara Malikussaleh dan Pelabuhan Krueng Geukueh.

Ia mengungkap, sejak hari pertama hingga hari keempat banjir, tidak ada satu pun pejabat Pemkab Aceh Utara yang datang langsung menjemput bantuan besar tersebut.

“Bantuan dari Danantara sekitar 10 ton, dari Bank BSI sekitar 13 ton, ditambah kiriman dari Basarnas. Tapi sampai hari keempat, tidak satu pun pejabat Aceh Utara datang ke bandara atau pelabuhan untuk menjemput bantuan itu. Mereka hanya menunggu, sementara barang menumpuk,” tutur Nek Jir.

Distribusi Masih Terbatas, Penumpukan Tak Terhindarkan

Nek Jir juga menjelaskan bahwa penumpukan yang terjadi di pendopo semata-mata karena mekanisme distribusi yang dibatasi oleh Pemkab sendiri.

Bantuan untuk tiap kecamatan, jelasnya, dibatasi hanya 300 kg beras, 10 dus mie instan, dan 20 kotak air mineral, sehingga wajar bila barang masih bertahan hingga hari kelima bencana.

“Jadi kalau ada anggota DPRK membantu mengangkut dan membagikan, itu justru untuk menghindari penumpukan dan mempercepat penyaluran ke warga,” ujarnya.

“Jangan Perkeruh Suasana, Kita Sedang Dilanda Musibah”

Nek Jir mengimbau semua pihak untuk menahan diri dari membuat tuduhan yang tidak berdasar dan dapat memicu kegaduhan.

“Sekali lagi, jangan memperkeruh suasana. Kita sedang dilanda musibah. Fokus kita adalah membantu masyarakat, bukan saling menyalahkan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *