Banda Aceh – Suasana haru menyelimuti Bandara Sultan Iskandar Muda, Jumat (31/10/2025) pagi. Seorang bayi berusia sembilan bulan bernama Fathir Alvansyah digendong ibunya, Sri Elfita, sambil menahan air mata. Bayi mungil asal Aceh Utara itu akan terbang ke Jakarta untuk melanjutkan pengobatan jantungnya — dengan dukungan penuh dari PMI Kota Banda Aceh.
Fathir, putra pasangan Andriansyah dan Sri Elfita, divonis menderita bocor jantung dengan diagnosa medis yang cukup kompleks: Double Outlet Right Ventricle (DORV) dengan VSD besar, single ventricle, serta mild valvular PS dan kemungkinan hipertensi paru (PH). Kondisi ini membuat jantungnya bekerja dua kali lebih keras dibanding bayi seusianya.
Perjalanan panjang Fathir dimulai sejak 30 September 2025, saat ia dirujuk dari RSU Cut Meutia Aceh Utara ke RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh untuk perawatan intensif. Setelah sempat dirawat di ruang Raudhah 2, Fathir mulai menunjukkan kemajuan dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit pada 5 Oktober 2025.
Namun, perjuangan keluarga ini belum berakhir. Karena masih memerlukan pengawasan medis, mereka ditampung sementara di rumah singgah PMI Kota Banda Aceh.
Baca Juga : Nek Jir Kembali Dampingi Bayi Bocor Jantung, Siap Bawa Hingga ke Jakarta
Dari Rumah Singgah ke Harapan Baru
Selama hampir satu bulan tinggal di rumah singgah, keluarga kecil itu mendapatkan perhatian penuh dari relawan PMI. Di sana, mereka tidak hanya mendapat tempat tinggal, tetapi juga pendampingan emosional dan bantuan kebutuhan sehari-hari.
Koordinator Rumah Singgah PMI Kota Banda Aceh, Yahbang, menjadi sosok yang mendampingi Fathir sejak awal dirujuk dari Aceh Utara hingga proses keberangkatan ke Jakarta.
“Kami menerima keluarga Fathir sejak awal Oktober. Selama di sini, kami bantu semua kebutuhan mereka — mulai dari tempat tinggal, transportasi kontrol ke RS, sampai pengurusan administrasi rujukan ke Jakarta,” ujar Yahbang.
Menurutnya, perjuangan Fathir bukan hanya soal pengobatan medis, tapi juga tentang kekuatan keluarga dan kehadiran orang-orang yang peduli.
“Ibunya sempat drop karena khawatir dan lelah. Tapi kami terus dampingi. Saat akhirnya Fathir berangkat, kami semua ikut antar ke bandara. Rasanya campur aduk antara sedih dan bahagia,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
PMI Fasilitasi Keberangkatan ke Jakarta
Setelah kontrol ulang di Poli Anak RSUDZA pada 10 Oktober 2025, dokter merujuk Fathir untuk menjalani pengobatan lanjutan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.
Mengetahui kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, PMI Kota Banda Aceh bergerak cepat. Organisasi kemanusiaan itu menanggung biaya tiket pesawat pulang-pergi sebagai bentuk talangan, serta membantu seluruh proses administrasi keberangkatan.
Fathir akhirnya terbang ke Jakarta bersama ibunya dan kakaknya, Khaira, menggunakan maskapai Pelita Air. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, mereka dijemput oleh tim Dompet Dhuafa dan akan tinggal di rumah singgah Yayasan Ruang Sejahtera Umat di Jakarta Barat, berdekatan dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.
“Hadir dengan Hati, Bukan Hanya Saat Darah dan Bencana”
Ketua PMI Kota Banda Aceh, Ahmad Haeqal Asri, mengatakan bahwa kisah Fathir adalah pengingat bahwa kemanusiaan tidak berhenti pada donor darah atau bencana alam semata.
“Kami hadir bukan hanya untuk memberi bantuan, tapi juga memberi semangat dan harapan. Perjalanan Fathir ini mengajarkan kita bahwa kemanusiaan tidak mengenal jarak,” ujar Haeqal.
Senada, Ketua PMI Provinsi Aceh, Murdani Yusuf, menegaskan bahwa PMI harus selalu berada di garis depan kemanusiaan.
“PMI bukan hanya tentang darah dan bencana, tapi juga tentang menghadirkan harapan bagi sesama. Kisah Fathir ini membuktikan bahwa kepedulian bisa menyelamatkan masa depan,” ucap Murdani.
Langkah Kecil Menuju Harapan Besar
Kini, Fathir tengah memulai babak baru perjuangannya di Jakarta. Di balik tangis kecilnya, ada harapan besar yang menyala — harapan akan kesembuhan dan masa depan yang lebih cerah.
Bagi PMI Kota Banda Aceh, kisah ini menjadi simbol bahwa hadir dengan hati mampu menyalakan cahaya di tengah ujian hidup. Bantuan kecil bisa bermakna besar, terlebih ketika diberikan dengan kasih dan ketulusan.
Semoga langkah kecil Fathir menuju Jakarta menjadi awal dari kesembuhannya — dan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus menebar kemanusiaan di mana pun berada.






